Peneliti Italia Sebut Corona Bisa Keok Kena Sinar Ultraviolet Matahari 

0
60

Hasilnya bervariasi, tetapi secara umum, dari Januari hingga April di negara-negara antara 40 hingga 60 derajat utara khatulistiwa, paparan sinar UV selama antara 30 menit dan 14 jam sehari diperlukan untuk membunuh 63 persen virus.

Wilayah tersebut meliputi banyak negara termasuk China, Italia, Spanyol, dan Amerika Serikat – negara-negara yang terpukul parah akibat pandemi tersebut.

“Di negara-negara utara wabah berlangsung dengan kecepatan tinggi selama puluhan hari, terlepas dari langkah jaga jarak yang berlaku oleh sebagian besar negara-negara ini,” kata para ilmuwan, dilansir dari laman Asia One, Senin (15/6/2020).

Sementara untuk wilayah bagian selatan khatulistiwa, penelitian tim tersebut mengungkapkan dibutuhkan waktu sekitar 4-35 menit untuk membunuh virus.

Daerah termasuk Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Chile, Argentina, dan Zimbabwe, banyak dari pemerintah yang memberlakukan tindakan penguncian yang tidak terlalu ketat, dan di mana tingkat infeksi relatif rendah.

Namun, tidak semua wilayah selatan ‘bernasib baik’, contohnya Brasil yang telah mencatatkan lonjakan angka kasus.

Dikatakan pula bahwa ada tanda-tanda menunjukkan tingkat infeksi di wilayah selatan telah meningkat karena tingkat paparan UV menurun karena perubahan musim.

Profesor Li Ying, seorang astronom di Purple Mountain Observatory di kota Nanjing, mengatakan para ilmuwan menghadapi banyak tantangan dalam meneliti hubungan antara radiasi matahari dan penyebaran Corona.

Banyak elemen cuaca, seperti tetesan air di awan yang menyerap atau membelokkan sinar matahari, dapat memengaruhi pengamatan.

Beberapa peneliti lain telah mengatakan bahwa perubahan aktivitas matahari dalam beberapa bulan terakhir telah mengurangi jumlah radiasi ke Bumi, yang mungkin telah berkontribusi pada munculnya dan penyebaran virus.

Tetapi Li mengatakan tidak ada bukti untuk mendukung spekulasi semacam itu dan bahwa ada tanda-tanda lingkaran matahari baru akan segera dimulai, jika itu belum terjadi.

“Kami berharap aktivitas matahari akan mencapai titik tertinggi dalam dua atau tiga tahun,” katanya.(*)

Editor: Ucu Rahman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here